Margi Story

Something I want to share

Category: Uncategorized

Kali ini mencoba posting wordpress lewat email.

Hello,…

​Hari ini saya beli domain baru dengan hosting 1 GB an…. kecil, iya gapapa.
Ingin mengaktifkan kembali Google AdSense saya yang suspended karena keisengan jaman dulu.
Masa alamat web saya arahkan ke profile friendster? …. F R I E N D S T E R !!!

tua

Makanya kali ini ingin menseriusi lagi,… yaaa dipikir santai tapi serius, dijadikan passive income cita-citanya,… mayan buat beli listrik dan pulsa lah,… biar dapat duit dari internet gitu pinginnya, hahaha… mimpi boleh kan?

Nah, jadi ini saya posting lewat email. Berhasilkah?

facebook page

My professional identity

My Showreel

Dua hari dilaut

Setelah berangkat dari penginapan kemarin, kami berjudi dengan keadaan. Keadaan dimana kami belum tahu bakal dapat tiket atau tidak. 

Bung Aghoy sudah berangkat duluan ke pelabuhan untuk mengurus ijin keberangkatan. Kami bertiga menyusul kesana. Dengan bantuan Google Maps kami mencapai titik tempat parkir kendaraan. 

Wajah Jisel masih cemberut, garis ketidakpastian tergambar dibalik helm full facenya. 

Kemudian saya baca pesan di group Whatsapp kami,  Bung Aghoy mengabarkan bahwa kami mendapatkan tiket untuk berangkat. Dengan foto tiket dan kalimat text tentang kabar baik itu. 

“yeaaaayyy… ” Jisel sontak berteriak sambil mengepalkan tangan jauh ke kiri dan ke kanan. Dari tempat parkir kami bertiga pindah lokasi,… Pindah ke tempat yang sekiranya mudah ditemukan Aghoy. 

Tunggu dan terus menunggu,  badan kami mulai berkeringat, sebatang rokok habis kubakar. Beberapa kali ada ibu-ibu menawarkan dagangannya dari balik pagar. 

Suatu saat aku bilang ke ibu itu,  “bu,… Saya butuh sandal jepit… ” dan kemudian ibu itu menjawab “oh ada, kakak saya menjualnya”

Kemudian saya mengambil sebatang kayu yang tergeletak dekat kaki saya dan saya kira-kira ukurannya cocok dengan kaki saya. Yang sedang bersepatu. 

Rupanya bung Aghoy sudah datang, saya sampaikan kalau saya sedang menunggu pesanan sandal. 

Seorang ibu datang tergopoh-gopoh mendekati pagar. Ia membawa dua pasang sandal. Saya terima kedua pasang sandal itu,  saya ukur pada kaki saya yang sedang bersepatu. Entah apa logika saya,  saya memilih sandal yang panjangnya sama dengan sepatu saya. Saya sedang memakai sepatu gunung. 

Lanjut,  kami berempat melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk kapal…  Berkendara beriringan pelan-pelan. 

Setelah sampai di mulut kapal kami harus menunggu barisan truk besar yang sudah membeli tiket beberapa hari sebelumnya. Barang-barang hasil bumi seperti bawang dan lainnya ada pada angkutan berbobot berat itu. 

Kami berfoto mengabadikan kondisi saat itu. Karena konon kami bisa dapat tiket mendadak karena urusan surat-surat kami lengkap. Termasuk surat jalan dari kepolisian Jakarta Selatan.

Mulailah perjalanan kami,  motor dipersilakan masuk setelah sebelumnya menjawab berbagai pertanyaan tentang motor yang kami kendarai, mungkin karena TVS masih banyak yang belum mengetahui. 

Kemudian kami naik ke dek kapal,  sesegera mungkin kami memilih tempat yang berdekatan. Ada sebuah ruang yang diperuntukkan bagi penumpang. Berbentuk deretan tempat tidur. 

Perjalanan diperkirakan makan waktu sekitar 48jam,  yasudah,  selama itu pula kami akan berada di laut.  Tanpa signal data handphone. 

Kami melakukan kegiatan apapun untuk mengisi waktu kami. Makanan yang ada kami nikmati saja,… 

Kami dapat ijin dari captain kapal untuk masuk ke ruang kerjanya,  kami minta ijin saat sebelum keberangkatan.  

Saat saya mengetik cerita ini secara offline,  kami sudah menghabiskan waktu di kapal sekitar 26 jam,… Sudah separuh perjalanan, kurang lebih. 

Seusai subuh tadi pagi kami berkumpul di dek atas,  ruang terbuka dengan angin yang cukup kencang. Dengan kopi ditangan dan jaket dari AREI kami menikmati pemandangan yg ada,  belum mandi tentunya. 

Obrol punya obrol ternyata saya bertemu dengan pak Dandu,  orang Srengat yang sedang mengirimkan mobil Vitara ke Pontianak. Kami bercakap panjang tentang kendaraan, tentang motor,  tentang mobil,  tentang daerah-daerah yang pernah kami lewati. Rupanya dia seorang explorer juga.  Cerita tentang Sulawesi, Kalimantan diceritakan dengan gamblang,  apalagi daerah di Jawa.  Bahkan ia mengundang kami mampir kerumah adiknya yg notabene seorang motoris juga di Pontianak sana. 

Kopi kami tandas, panggilan sarapan bagi penumpang kapal terdengar dari corong speaker kapal DHARMA KENCANA. Kami beranjak menuju lokasi pengambilan makan. 

Setelah sarapan, kami bercengkerama di warung terbuka dengan suguhan angin laut yang kencang dan lantai yang terus bergoyang. Bosan disana,  kami kembali ke tempat tidur kami. Dan hingga saat ini kami belum ada yang mandi. 

Adzan dhuhur berkumandang dari corong speaker kapal,  saatnya mengisi lambung yang kosong. Bun Aghoy dengan sigap mengambilkan makanan buat kami.  Gelli masih terbungkus dalam sleeping bag. Karena ia terpapar angin AC,  sementara posisi tidur saya cukup nyaman tanpa selimut,  tidak kena paparan angin AC.

 

Paketan motor yang kelamaan. 

Jadi ceritanya kan saya harus ke Jakarta Senin malam tanggal 4 Sept 2017, karena ada jadwal kerja yang mengharuskan Selasa tgl 5 Sept itu saya harus ada di Jakarta. 

Saya harus membawa motor Bajaj Pulsar saya ke Jakarta untuk urusan pajak bulan Oktober,  dan tak mungkin saya kendarai kali ini. Saya membawa ransel berisi beberapa lensa dan kamera, yang kalau ditotal nilainya bisa digunakan untuk beli mobil second hehehe… 

Kemudian saya menuju Herona Express di kawasan Pasar Kembang Yogyakarta,  untuk memaketkan si motor kesayangan.  Pelayanan sangat standar,  berkesan tak peduli dan konsumenlah yang sangat membutuhkan mereka. Konsumen bukan raja disini.  Hukum memaketkan motor adalah bensin dikosongkan,  sedangkan saya agak spontan mengambil keputusan tadi. Maka isi tangki bensin masih setengah. Untuk info,  Bajaj Pulsar saya full tanknya 19liter,  untuk perjalanan Jogja – Jakarta ga perlu isi bensin dijalan. 

Saya tidak membawa botol kosong,  maka isi bensin itu dikiras dan jadi rejeki si penjaga Herona. Ok,  gapapa…  Bayangan saya tuh mereka menyediakan botol kosong untuk tempat bensin.  Yasudahlah… Baru kali ini saya paketkan motor saya,  itupun terpaksa. 

Tukang paketan barang itu bilang bahwa maksimal tiga hari,  motor sampai.  Okay,  berarti estimasi saya tanggal 7 sudah sampai. Saya menggunakan jasa STD,  yang berarti Station To Door. Itu kata kwitansi yg saya pegang sekarang. 

Saat saya mengetik ini,  sudah tanggal 8, sudah 4 hari,  dan belum ada kabar sedikitpun daei mereka. Saya dikenai biaya Rp575, 000 untuk kendaraan itu. 

Dengan bonus helm diikutkan tapi gratis,  ya iyalah… 

Sudah lebih satu hari dari estimasi waktu yang diucapkan. Saya tunggu hingga besok,  semoga STD nya memang benar2 STD. 
Yaudah,  begitu saja. 

© 2018 Margi Story

Theme by Anders NorenUp ↑