Margi Story

Something I want to share

Month: January 2018

Dua hari dilaut

Setelah berangkat dari penginapan kemarin, kami berjudi dengan keadaan. Keadaan dimana kami belum tahu bakal dapat tiket atau tidak. 

Bung Aghoy sudah berangkat duluan ke pelabuhan untuk mengurus ijin keberangkatan. Kami bertiga menyusul kesana. Dengan bantuan Google Maps kami mencapai titik tempat parkir kendaraan. 

Wajah Jisel masih cemberut, garis ketidakpastian tergambar dibalik helm full facenya. 

Kemudian saya baca pesan di group Whatsapp kami,  Bung Aghoy mengabarkan bahwa kami mendapatkan tiket untuk berangkat. Dengan foto tiket dan kalimat text tentang kabar baik itu. 

“yeaaaayyy… ” Jisel sontak berteriak sambil mengepalkan tangan jauh ke kiri dan ke kanan. Dari tempat parkir kami bertiga pindah lokasi,… Pindah ke tempat yang sekiranya mudah ditemukan Aghoy. 

Tunggu dan terus menunggu,  badan kami mulai berkeringat, sebatang rokok habis kubakar. Beberapa kali ada ibu-ibu menawarkan dagangannya dari balik pagar. 

Suatu saat aku bilang ke ibu itu,  “bu,… Saya butuh sandal jepit… ” dan kemudian ibu itu menjawab “oh ada, kakak saya menjualnya”

Kemudian saya mengambil sebatang kayu yang tergeletak dekat kaki saya dan saya kira-kira ukurannya cocok dengan kaki saya. Yang sedang bersepatu. 

Rupanya bung Aghoy sudah datang, saya sampaikan kalau saya sedang menunggu pesanan sandal. 

Seorang ibu datang tergopoh-gopoh mendekati pagar. Ia membawa dua pasang sandal. Saya terima kedua pasang sandal itu,  saya ukur pada kaki saya yang sedang bersepatu. Entah apa logika saya,  saya memilih sandal yang panjangnya sama dengan sepatu saya. Saya sedang memakai sepatu gunung. 

Lanjut,  kami berempat melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk kapal…  Berkendara beriringan pelan-pelan. 

Setelah sampai di mulut kapal kami harus menunggu barisan truk besar yang sudah membeli tiket beberapa hari sebelumnya. Barang-barang hasil bumi seperti bawang dan lainnya ada pada angkutan berbobot berat itu. 

Kami berfoto mengabadikan kondisi saat itu. Karena konon kami bisa dapat tiket mendadak karena urusan surat-surat kami lengkap. Termasuk surat jalan dari kepolisian Jakarta Selatan.

Mulailah perjalanan kami,  motor dipersilakan masuk setelah sebelumnya menjawab berbagai pertanyaan tentang motor yang kami kendarai, mungkin karena TVS masih banyak yang belum mengetahui. 

Kemudian kami naik ke dek kapal,  sesegera mungkin kami memilih tempat yang berdekatan. Ada sebuah ruang yang diperuntukkan bagi penumpang. Berbentuk deretan tempat tidur. 

Perjalanan diperkirakan makan waktu sekitar 48jam,  yasudah,  selama itu pula kami akan berada di laut.  Tanpa signal data handphone. 

Kami melakukan kegiatan apapun untuk mengisi waktu kami. Makanan yang ada kami nikmati saja,… 

Kami dapat ijin dari captain kapal untuk masuk ke ruang kerjanya,  kami minta ijin saat sebelum keberangkatan.  

Saat saya mengetik cerita ini secara offline,  kami sudah menghabiskan waktu di kapal sekitar 26 jam,… Sudah separuh perjalanan, kurang lebih. 

Seusai subuh tadi pagi kami berkumpul di dek atas,  ruang terbuka dengan angin yang cukup kencang. Dengan kopi ditangan dan jaket dari AREI kami menikmati pemandangan yg ada,  belum mandi tentunya. 

Obrol punya obrol ternyata saya bertemu dengan pak Dandu,  orang Srengat yang sedang mengirimkan mobil Vitara ke Pontianak. Kami bercakap panjang tentang kendaraan, tentang motor,  tentang mobil,  tentang daerah-daerah yang pernah kami lewati. Rupanya dia seorang explorer juga.  Cerita tentang Sulawesi, Kalimantan diceritakan dengan gamblang,  apalagi daerah di Jawa.  Bahkan ia mengundang kami mampir kerumah adiknya yg notabene seorang motoris juga di Pontianak sana. 

Kopi kami tandas, panggilan sarapan bagi penumpang kapal terdengar dari corong speaker kapal DHARMA KENCANA. Kami beranjak menuju lokasi pengambilan makan. 

Setelah sarapan, kami bercengkerama di warung terbuka dengan suguhan angin laut yang kencang dan lantai yang terus bergoyang. Bosan disana,  kami kembali ke tempat tidur kami. Dan hingga saat ini kami belum ada yang mandi. 

Adzan dhuhur berkumandang dari corong speaker kapal,  saatnya mengisi lambung yang kosong. Bun Aghoy dengan sigap mengambilkan makanan buat kami.  Gelli masih terbungkus dalam sleeping bag. Karena ia terpapar angin AC,  sementara posisi tidur saya cukup nyaman tanpa selimut,  tidak kena paparan angin AC.

 

Selamat tinggal cemara,…

Sejak tahun lalu tetangga seberang rumah protes soal pohon cemara yang mengundang ulat bulu.  Namun karena kepalaku cukup keras,  maka kubiarkan saja protes itu. 

Ini lho masalahnya,…

Hingga pada suatu saat ibunya anak2 tiba2 membelikan aku sebuah gergaji lipat. Kode apa ini? Batinku,…  Ternyata ia juga komplain soal ulat bulu. Bagiku ulat bulu itu adalah produk alam,  dan bisa dilawan cukup dengan air detergen,… Iya,  sesederhana itu. Tapi yg namanya ibu-ibu,.. Kalau pohonnya kena ulat bulu,  pohon harus ditebang. 

Kalau rumahnya kemasukan tikus,  harus dibakar rumahnya. Gitu? 

Yasudahlah,… Gausah banyak omong. Akhirnya pagi ini kuputuskan memotong pohon cemara kesayanganku. Kenapa aku suka pohon cemara? Karena ia simbol tumbuhan di pantai dan gunung,… Dua lokasi yang aku suka. Selain itu,  ia mampu menangkap suara angin.  Sesederhana itu. 

Tapi rupanya tidak sesederhana pikiran tetangga dan istriku. 

Terpotong sudah

Kukerjakan setelah anak istri berangkat,  pun juga tetangga yang akan beraktifitas kantor. Gerimis pagi ini menambah sedih dihati,… Iya, tiap melihat pohon yang ditebang, saya sedih. Ada kehidupan disana,…  Bahkan tadi sebelum mengayunkan golok Tomahawk yg saya punya sejak kuliah, saya minta maaf ke pohon cemara itu. Iya, kuajak bicara,… Tentu ia tidak membalas. 

Hanya pakai alat ini,…

Saya sudah sarapan seadanya tadi bareng dua anak SD saat mereka bersiap ke sekolah. Tapi ternyata cukup makan banyak tenaga juga rupanya. Saat saya mengetik tulisan ini,  sudah hampir dua jam saya istirahat. Sudah habis dua pisang dan segelas es teh. Sekarang ditemani lagu2 Nasional 80an dari radio dan secangkir kopi. 

Kayu segar yang kusimpan…

Terbayang kan tinggi cemaranya seberapa?

Memang benar banyak ulat bulu yang ada di pohon itu,… Namun saya tak terganggu karenanya. Tinggal dibelah saja pakai badik itu. Beres,… 

Saya rapikan sisa potongan daun dan ranting,…  Saya jadi ingat masa-masa di Wamena. Disana banyak sekali pohon cemara,  saya suka. Mereka mampu menangkap suara angin, hal itu yang selaku aku rindu. 

Dirapikan saja,… Sembari dijemur.

Nah,  kalau dipikir lagi,  cemara ini kalah dg omongan. Omongan tetangga dan bini saya. Padahal tetangga seberang menanam pohon mangga,.. Didekat kamarnya. Setahu saya pohon mangga ada ulatnya juga,  dan mirip dg ulat cemara. 

Tapi sudahlah,… Saya ngalah,… 

Sekarang saatnya mandi lagi, lalu mulai ngedit perjalanan Kalimantan akhir tahun lalu. Yang rupanya ga sempat bikin catatan harian blognya. 

Oiya,  sekarang ga bisa lagi cari rumah Oyikk yang ada cemaranya ya? 

© 2018 Margi Story

Theme by Anders NorenUp ↑